Oleh: Bayu Pamungkas
(Ketua Umum HmI Komisariat IAIDU 2022-2023)
Dalam dunia kemahasiswaan Islam pasca tahun 1949 dan seterusnya nama HMI tentu bukanlah hal asing yang jarang didengar ditelinga kalangan elit intelektual.
Organisasi kemahasiswaan Islam yang berdiri sejak tanggal 5 Februari 1947 M bertepatan dengan tanggal 14 rabiul awwal 1366 H itu telah banyak menorehkan tinta sejarah di panggung perjuangan bangsa Indonesia.
A. Berawal dari tujuan menuju perjuangan
Pada kongres ke-1 HmI di Yogyakarta telah menetapkan tujuan yang singkat untuk menunjukkan eksistensi HmI sebagai organisasi mahasiswa Islam kaum intelektual yaitu: “mempertahankan negara republik Indonesia dan mempertinggi derajat rakyat Indonesia, menegakkan dan mengembangkan ajaran agama Islam” . Sebagai tanda awal bergeraknya para mahasiswa Islam yang di himpun didalam wadah bernama HmI.
Sejauh ini telah terjadi perubahan tujuan/cita-cita HmI dengan mempertimbangkan kebutuhan-kebutuhan dasar masyarakat. Tepatnya pada kongres HmI ke-lV di Bandung akhirnya tujuan HmI diperbaiki redaksinya dikongres HmI ke-X Palembang menjadi “terbinanya Insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT”. Tujuan ini lah yang sampai hari ini masih terus dipegang para kader HmI dalam memperjuangkan masyarakat Indonesia.
Masuk HmI adalah kebutuhan untuk memperbaiki kemampuan yang masih sangat jauh dari kesempurnaan, membangun kesadaran demi mencapai harapan. Alangkah naifnya jika masuk HmI hanya dijadikan tujuan pragmatis saja, misalnya agar dapat kerja pasca ber HmI, agar dapat dekingan dikampus dsb. Hal inilah yang membuat para kader yang lulus LK 1 tidak menyadari bahwa tujuan dari diadakannya basic training dan lunturnya semangat bercita HmI.
B. Pudarnya gagasan karena banyak arahan
Untuk mewujudkan cita-cita ber HmI harus seirama dengan aturan main yang telah ditentukan dalam suatu organisasi biasanya kita kenal AD/ART atau GBHO (garis besar haluan organisasi). Memegang teguh aturan main dalam berorganisasi dengan mempertimbangkan kebaikan bersama menjadi salah satu ciri individu dikatakan layak sebagai kader yang loyalitas terhadap kepentingan organisasi. Namun kita lagi-lagi dihadapkan dengan fenomena yang bertentangan dengan apa yang menjadi ekspetasi bersama. Terlalu banyaknya arahan dari senior membuat kita buta terhadap aturan main organisasi.
Seolah-olah kita berada dalam kenikmatan organisasi yang di bawa oleh aturan main senior dan terkadang ikut pula terhadap _conflic of interest_ (konflik kepentingan) para senior-senior tersebut. Hal ini pula lah yang membuat kita lalai terhadap kepentingan organisasi yang seharusnya wadah seperti HmI menjadi lokomotif masa yang bisa terus mempertahankan persatuan dan memperjuangkan kepentingan para kaum mustad’afin (tertindas), dan terus melakukan perlawanan terhadap kaum mustakbirin (penindas). Penulis hanya ingin sampaikan bahwasanya “senior hanya sedikit membawa berkah sisanya adalah musibah” statemen ini penulis munculkan karena kepentingan senior bukanlah lagi soal kondisi organisasi saja, tapi ada kepentingan pragmatis lain yang ingin dituju.
Kita sudah terlalu jauh dari khittah perjuangan himpunan ini. Gagasan lewat tulisan, kini kian sulit di temui dalam ghirah para kader HmI, inilah yang membuat kader mengalami kondisi stagnan, tidak dapat menyelesaikan permasalahan dan hanya dapat mengeluh terhadap keadaan. Mengeluh terhadap keadaan adalah bentuk tertindasnya intelektual.
C. Karya HmI telah mati?
Tujuan HmI sangat membanggakan apabila dapat dibuktikan dengan tindakan para kadernya. Namun penulis justru banyak melihat melemahnya daya kritik, dan solusi yang diberikan terhadap kondisi saat ini. Jika kita melihat kebelakang, HmI adalah organisasi yang sangat kental mengkritik, baik dalam lingkup kampus, maupun pemerintahan, serta mampu menghadapi segala tekanan. sehingga filosofi diarit makin bangkit, di palu makin maju, ditendang semangkin menantang itu menyala dalam jiwa kader. Karya HmI telah mati, karena penulis juga tidak melihat adanya karya dari tingkat PB HmI sampai ke komisariat yang bisa konkrit menjawab persoalan-persoalan.
Seolah-olah HmI telah mati kehilangan ruh intelektualnya. Jika karya yang ingin dibuat tidak menguntungkan suatu kelompok tertentu. Maka karya itu akan di hentikan, timbul 1 pertanyaan HmI milik siapa? Jika HmI milik bangsa Indonesia, masyarakat harus merasakan dampak dari karya-karya para kader HmI sendiri, dan sudah seharusnya terus disuport oleh kalangan elit struktural HmI. Tujuan HmI mesti kita capai bersama bukan dilaksanakan oleh satu atau beberapa individu saja, tetapi harus ada langkah konkret bersama untuk membenahi kondisi HmI yang kian carut marut, dan berbanding terbalik antara Tujuan HmI, dan karya para kadernya. Sudah seharusnya kita mulai gerakan ini dengan HmI berbenah, berbenah dari tingkat PB sampai ketingkat akar rumput yaitu komisariat.
Kader HmI harus terus menimbulkan peran agar redupnya daya nalar bisa kita singkirkan bersama. Bangga dengan HmI adalah berjuang bersama mewujudkan cita-cita HmI. Menukil dari perkataan prof Lafran pane “perbedaan pendapat dalam organisasi sangat diperlukan untuk memajukan organisasi, dan perbedaan itu bersifat temporer”. Dari ungkapan ini dapat ditarik kesimpulan bahwa organisasi HmI milik bersama dan harus dibesarkan bersama dengan ide yang terbaik.
Penulis mengutip didalam buku automic habits karya James Clear dikatakan bahwa “bukan pukulan terakhir yang memecahkan bongkahan batu besar, tapi pukulan-pukulan kecil sebelumnya yang secara konsisten terus dilakukan”. Tidak peduli berapa yang bergerak, tapi kuncinya adalah selalu mengingatkan, menyeruh, serta mencontohkan langkah perjuangan sesuai dengan tujuan himpunan ini didirikan.(*)














