Pontianak – Pontianakmetropost.com | 22 Agustus 2025
Ketua Investigasi LIRA, Totas, melontarkan kritik pedas terhadap penyidikan kasus proyek peningkatan jalan di Kabupaten Mempawah yang kini semakin mengerucut ke lingkaran kekuasaan.
Setelah mantan Bupati yang kini Gubernur Kalbar, Ria Norsan, diperiksa KPK, giliran mantan Wakil Bupati Gusti Ramlana ikut dipanggil penyidik. Publik menilai langkah ini bukan sekadar formalitas, melainkan sinyal awal terbongkarnya lingkaran inti pengendali proyek yang merugikan negara hingga Rp38 miliar.
Menurut Totas, proyek jalan yang seharusnya menopang pembangunan rakyat justru disulap menjadi ladang bancakan. Tender diduga dikondisikan, aturan pengadaan barang dan jasa disingkirkan, dan hasilnya hanyalah jalan murahan serta kerugian negara. “Sementara rakyat kecewa, segelintir orang diduga pesta pora menimbun kekayaan instan,” tegasnya.
Lebih jauh Totas mengingatkan, akar skandal ini bukan hanya di proyek, tetapi di jejak uang. “Follow the money harus jadi pegangan. Uang hasil dugaan korupsi tak pernah menguap. Selalu ada kurir yang mengantar, rekening yang menampung, dan bank yang meloloskan,” ujarnya.
Dalam pusaran itu, sejumlah nama kunci mencuat. Supir pribadi mantan bupati disebut sebagai kurir uang yang menghubungkan hasil bancakan dengan penerima. Bahkan, Customer Service Bank Mandiri Cabang Siantan terseret, diduga mengetahui bahkan meloloskan transaksi mencurigakan.
Sorotan paling tajam kini mengarah ke sosok IDI, “raja kecil” di balik Pokja. Dialah yang diduga mengatur pemenang proyek, mengunci tender sejak awal, dan menjadikan proses lelang hanya sandiwara belaka. “Posisi ini adalah simpul vital dalam dugaan tipikor berjamaah di Mempawah,” terang Totas.
Polanya pun sudah terbaca: pejabat memberi restu, raja kecil Pokja mengatur pemenang, kurir mengalirkan uang, dan bank membuka pintu transaksi. Negara buntung, rakyat jadi korban, sementara para aktor diduga menari di atas uang haram.
Kini, kata Totas, bola ada di tangan KPK. “Pemanggilan Norsan dan Gusti Ramlana hanyalah pintu masuk. Keberanian sesungguhnya adalah membongkar peran kurir, menelusuri rekening di bank, dan menguliti kuasa raja kecil Pokja. Jika tidak, kasus ini akan tumpul dan terkubur kompromi politik,” tegasnya.
Pertanyaan publik pun menggantung: beranikah KPK menyeret seluruh simpul busuk ini ke meja hijau? Atau skandal Rp38 miliar Mempawah hanya akan jadi catatan kelam lain dalam daftar panjang proyek bancakan di daerah?
Satu hal pasti, pungkas Totas: “Jejak uang tak pernah bohong. Ikuti alirannya, maka topeng para pemain akan rontok, dan wajah asli para perampok pembangunan akan terbuka lebar.”
Tim: Redaksi













