Singkawang – PontianakMetroPost.com | 15 Juni 2025
Tragedi memilukan yang mengguncang warga Singkawang akhirnya mulai menemui titik terang. Dalam waktu kurang dari 48 jam, jajaran Satreskrim Polres Singkawang yang dibackup tim Resmob Polda Kalbar berhasil membongkar kasus pembunuhan sadis terhadap Rafa Fauzan, balita berusia 1 tahun 11 bulan yang sebelumnya dilaporkan hilang sejak 10 Juni 2025. Jasad bocah malang itu ditemukan dalam kondisi mengenaskan di depan pintu sebuah masjid di Jalan Veteran, Kelurahan Roban, Kecamatan Singkawang Tengah, pada 13 Juni 2025.
Pembunuhnya bukan orang asing. Hasil penyelidikan mengarah pada AB, seorang pria yang merupakan tetangga dekat dari pengasuh korban. Diduga kuat, pelaku menyimpan dendam pribadi yang akhirnya dilampiaskan dengan cara paling keji: membekap korban hingga tewas, memasukkannya ke dalam karung, dan sempat membuang jenazah ke rawa. Tak cukup sampai di situ, pelaku bahkan memindahkan jasad ke depan masjid seolah-olah ditemukan orang lain — sebuah upaya pengaburan fakta yang dingin dan terencana.
“Motif sementara diduga karena dendam,” ungkap Kasat Reskrim Polres Singkawang, AKP Deddi Sitepu, kepada media.
“Pelaku mengaku sakit hati akibat ucapan kasar dari pengasuh korban. Dari situ muncul niat balas dendam, dan ia ingin agar pengasuh korban disalahkan oleh pihak keluarga korban,” tegasnya.
Penangkapan AB dilakukan di kawasan Pasar Hingkong, Jalan Budi Utomo, Kelurahan Condong, Kecamatan Singkawang Tengah. Saat diamankan, pelaku tak bisa lagi mengelak dan mengakui semua perbuatannya.
Kini, AB telah diamankan bersama barang bukti dan tengah diperiksa intensif di Mapolres Singkawang. Polisi tidak menutup kemungkinan adanya motif tambahan atau bahkan keterlibatan pihak lain yang masih dalam proses pendalaman.
Kematian Rafa Fauzan menjadi tamparan keras bagi semua pihak—bahwa kadang, ancaman datang dari orang terdekat. Dendam, ketika tak dikendalikan, bisa menjelma menjadi tindakan brutal yang merenggut nyawa tak berdosa.
Publik mendesak agar proses hukum berjalan tanpa celah dan pelaku dihukum seberat-beratnya. Karena dalam tragedi ini, bukan hanya seorang balita yang direnggut nyawanya, tapi juga nurani kemanusiaan yang dicabik tanpa belas kasih.
(Reni Nandasari | PontianakMetroPost)













