KUBU RAYA – Pontianakmetropost.com
Drama klasik penyelewengan BBM subsidi kembali dipertontonkan secara terang-terangan di Kubu Raya, Kalimantan Barat. Indikasi kuat praktik kotor itu menyeret SPBU (6578302) Desa Kapur, yang diduga hanya dijadikan “terminal transit” truk tangki solar subsidi sebelum diarahkan ke gudang-gudang gelap.
Investigasi awak media pada Kamis (11/9) lalu membuka tabir permainan tersebut. Sebuah truk tangki merah putih (KB 9949 SFU) berkapasitas 16.000 liter solar subsidi, bukannya menyalurkan bahan bakar ke tangki SPBU, justru keluar dengan muatan penuh. Hampir 40 menit berada di area SPBU Desa Kapur, tak ada aktivitas bongkar muat. Truk hanya parkir manis di jalur pengisian, lalu melenggang keluar seperti tanpa beban.
Perjalanan selanjutnya kian mencurigakan. Truk itu menyeberang ke SPBU lain di kawasan samping Kodam Kubu Raya. Polanya identik: masuk, parkir sekitar setengah jam, lalu pergi tanpa aktivitas resmi. Dari kondisi suspensi, jelas terlihat tangki masih penuh. Pertanyaan besar pun muncul: untuk siapa sebenarnya solar subsidi ini dialirkan?
Kecurigaan makin tebal saat truk melintas Jembatan Kapuas II menuju Sungai Ambawang, kemudian singgah di sebuah gudang misterius dekat Bundaran Alianyang. Lagi-lagi, tak ada bongkar muat. Dari sana, truk bergerak ke arah Tugu Khatulistiwa—dan di sinilah puncak sandiwara busuk itu tersingkap.
Di kawasan Tugu Khatulistiwa, awak media mendapati sedikitnya tiga unit truk tangki lain tengah “berkumpul” di sebuah lahan gelap. Salah satunya menyalurkan solar melalui selang panjang ke truk lain yang baknya ditutupi terpal. Diduga kuat, inilah “truk siluman” yang dimodifikasi dengan baby tank untuk menampung ribuan liter solar. Alibi klise pun dimainkan: sebagian truk pura-pura dicuci, sementara yang lain sibuk menguras isi tangki.
Tak berhenti di situ, beberapa orang terlihat berjaga di sekitar lokasi. Jelas bahwa aktivitas tersebut bukan sekadar ulah individu, melainkan terstruktur, sistematis, dan dilakukan secara rapi. SPBU resmi seolah hanya kedok—sekadar tempat singgah untuk mengelabui publik, sementara transaksi gelap terjadi di balik layar.
Fenomena ini menambah panjang daftar hitam distribusi energi bersubsidi di Kalimantan Barat. Publik pun wajar bertanya: di mana pengawasan Pertamina? Ke mana aparat penegak hukum yang seharusnya menindak tegas? Jangan sampai solar subsidi, yang seharusnya menjadi hak masyarakat kecil, justru disedot habis oleh mafia terorganisir demi mengeruk keuntungan pribadi.
Jika praktik busuk ini terus dibiarkan, bukan hanya rakyat yang menjadi korban, tetapi juga negara yang terus dirugikan. Ironisnya, masyarakat kecil tetap harus mengantre berjam-jam di SPBU hanya untuk mendapat beberapa liter solar.
Hingga berita ini diturunkan, tim media masih terus menelusuri jalur distribusi truk tangki tersebut. Dugaan praktik penyalahgunaan solar subsidi ini menambah panjang persoalan distribusi energi bersubsidi di Kalimantan Barat, yang sebelumnya juga kerap diwarnai laporan permainan kuota hingga penimbunan ilegal.
(RN)














