TOBA – Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Studi Agama-Agama Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN-SU) turut menghadiri upacara Pameleon Bolon Sipaha Lima yang dilaksanakan di Lumban Julu, Kabupaten Toba, pada Selasa (8/7/2025). Kehadiran mahasiswa ini merupakan bagian dari kegiatan akademik untuk memperluas pemahaman terhadap tradisi keagamaan lokal di Sumatera Utara.
Tradisi Syukur Umat Parmalim
Pameleon Bolon Sipaha Lima merupakan salah satu ritual terbesar yang dijalankan oleh umat Parmalim, agama tradisional masyarakat Batak yang telah diwariskan turun-temurun. “Sipaha Lima” merujuk pada bulan kelima dalam penanggalan Batak, yang menjadi momentum khusus untuk memanjatkan doa dan mempersembahkan sesaji kepada Debata Mulajadi Nabolon (Tuhan Yang Maha Esa).
Ritual ini dimaknai sebagai ungkapan rasa syukur atas rezeki yang diterima sepanjang tahun, sekaligus permohonan berkat dan perlindungan untuk tahun mendatang.
Rangkaian Prosesi
Acara dimulai dengan penyembahan dan doa, dipimpin oleh seorang Ihutan atau pemimpin ritual Parmalim. Umat kemudian mempersembahkan sesaji berupa hasil bumi dan makanan tradisional sebagai simbol penghormatan kepada Tuhan.
Pada puncak upacara, dilakukan persembahan kerbau. Hewan ini disembelih sebagai lambang penyerahan diri umat kepada Sang Pencipta, dengan harapan mendapatkan keberkahan serta keselamatan. Sebelum penyembelihan, para pemimpin cabang (punguan) menampilkan tarian tortor diiringi musik tradisional Batak, menambah khidmat suasana.
Selain doa dan persembahan, makna simbolis bulan kelima menjadi penegasan tentang pentingnya siklus kehidupan, keteraturan waktu, dan hubungan manusia dengan alam. Keseluruhan rangkaian diyakini sebagai wujud keutuhan hidup yang harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan.
Kehadiran Mahasiswa
Ketua HMPS Studi Agama-Agama UIN-SU, Aulia Siddiq menyampaikan bahwa kehadiran mereka bertujuan untuk memahami praktik keagamaan lokal secara langsung.
“Kegiatan ini sangat berharga bagi kami, karena membuka wawasan tentang keberagaman agama dan tradisi di Sumatera Utara. Dengan melihat langsung, kami bisa memahami makna toleransi dan keberagaman secara lebih mendalam,” ujarnya.
Sementara itu, salah satu tokoh Parmalim setempat mengapresiasi kehadiran mahasiswa UIN-SU dalam upacara tersebut.
“Kami senang generasi muda dari luar komunitas Parmalim bisa menyaksikan tradisi ini. Semoga membawa pemahaman yang lebih luas tentang kearifan lokal Batak,” ungkapnya.
Pentingnya Toleransi dan Kajian Akademik
Kehadiran mahasiswa lintas agama dalam ritual Parmalim menjadi simbol toleransi dan saling menghargai perbedaan keyakinan. Selain itu, kegiatan ini sejalan dengan misi akademik Program Studi Studi Agama-Agama yang menekankan pentingnya kajian lintas budaya dan agama sebagai bagian dari ilmu pengetahuan.
Melalui pengalaman langsung ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya mempelajari agama dari sisi teori, tetapi juga memahami praktik keagamaan masyarakat yang masih lestari hingga kini.














