
Ngabang, Kalbar, Pontianak Metro Post
Anggota DPR RI DR, Drs, Cornelis, MH menyatakan problem utama yang harus dibenahi di Kalimantan Barat adalah infrastruktur jalan diseluruh kabupaten yang ada.
” Coba aja cek kita masih menemukan jalan berlubang dan jalan yang kurang lebar”, ungkapnya menjawab pertanyaan wartawan dikediamannya di Ngabang Kabupaten Landak (16/10/24).
Cornelis yang merupakan anggota DPR RI dari Dapil Kalbar ini mengharapkan kedepannya dengan gubernur yang baru akan memperhatikan keluhan masyarakat terhadap infrastruktur jalan ini.
Memurut dia sektor lain juga harus mendapatkan perhatian penuh seperti sektor pertanian, kesehatan dan pendidikan. ” Sebab sektor ini juga sangat penting dan perlu perhatian serius”, ungkap senator Senayan dari PDIP ini.

Cornelis kelahiran 27 Juli 1953 ini tercatat pernah menjabat sebagai gubernur Kalbar dua periode 2008-2018. Orang tua kandung dari Karolin Margret Natasa dan Angelina Fremalco serta suami dari Frederika,S.Pd ini mengawali karirnya sebagai anggota legeslatif DPR-RI sejak 2019-2024.
Kemudian masih dipercaya rakyat lagi untuk periode 2024-2029. Dalam buku BIOGRAPHY Cornelis Mendengar Rakyat Dari Dekat yang menceritakan fakta kinerja anggota DPR-RI DR.Drs.Cornelis MH Dapil 1 Kalimantan Barat 2019-2024 dengan penulisnya Abdul Mukti Ro’uf ini menceritakan kesadaran tentang upaya pengualitasan kader partai, di belakangnya terkandung tanggung jawab besar dalam menunaikan misi besar dalam membangun bangsa dan negara.
Karena itu, sebagai partai politik, apalagi partai pemenang pemilu sejak awal Orde Reformasi, tanggung jawab ini bukan hanya tanggung jawab organisasi partai politik, melainkan tanggungjawab kesejarahan dan peradaban yang mulia.
Kesaksian saya terhadap sosok Drs. Cornelis, M.H. bukan sekadar kesaksian sebagai kader partai, melainkan kesaksian kesejarahan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan itu sendiri.
Cornelis meniti karier dari bawah, bukan hanya di partai, tetapi dalam perjalanannya sebagai “aktor pemerintahan” sejak menjadi camat,
bupati, gubernur hingga anggota DPR RI.
Dia adalah salah satu teladan dalam kariernya sebagai pemimpin formal dan nonformal.
Hal paling menarik dari sosok Cornelis adalah soal inspirasi tentang daya juang seorang suku Dayak.
Ia dianggap berhasil mentransformasikan dirinya dan bahkan komunitas Dayak di Kalimantan menjadi sosok terdidik, berwawasan, dan menjadi pemimpin bukan hanya pada komunitasnya, melainkan menjadi pemimpin masyarakat Kalbar yang multietnis dan agama
tanpa kehilangan identitas kedayakannya.
Gerakan transformasi ini tidak mudah dijalani bagi setiap orang. Dibutuhkan wawasan dan pengalaman yang panjang dan berliku untuk sampai pada posisi kepemimpinan puncak.
Maka tidak heran, jika ditemukan “identitas kedayakan” yang melekat pada diri seorang Cornelis yang mencerminkan kepemimpinan yang otentik (authentic leadership).

Mungkin akan butuh waktu lama untuk menemukan kembali sosok seperti Cornelis dalam konteks Kepemimpinan yang multietnis.
Pada sosoknya dapat dipotret dari nilai-nilai autentisitas tersebut di antaranya, pertama, self-awareness dan tulus. Pemimpin-pemimpin yang autentik adalah individu yang mengaktualisasikan dirinya dengan memiliki self-awareness (kesadaran diri).
Mereka mengetahui kekuatan dan kelemahan pada diri mereka sendiri dan emosi mereka. Kedua, mission driven dan fokus pada hasil.
Mereka mampu menempatkan misi-misi untuk mencapai tujuan orang banyak atau organisasi di atas tujuan pribadi.
Mereka melakukan pekerjaan mereka untuk mencapai hasil, bukan untuk kekuasaan, ego, dan keinginan materi pribadi.
Ketiga, memimpin dengan hati, tidak hanya dengan pikiran. Mereka tidak takut untuk menunjukkan emosi-emosi yang mereka miliki, kerentanan mereka terhadap karyawan.
Keempat, fokus pada jangka panjang. Mereka fokus untuk hasil jangka panjang, bersedia untuk membimbing setiap orang serta memelihara organisasi dengan sabar dan kerja keras karena mereka yakin dengan hasil yang akan bertahan untuk jangka waktu yang lama.(buyung)













