Pontianak – Pontianak Metro Post
Pihak manajemen Perusahaan Umum (Perum) Damri angkat bicara terkait insiden tabrakan beruntun yang melibatkan dua unit bus Damri dan sebuah truk bermuatan pupuk di sekitar Simpang Ampar Sanggau, Kalimantan Barat, beberapa waktu lalu.
Manajer Operasional PT Damri, Rizka Maulana, didampingi Asisten Manajer Asih Eko P, menyampaikan bahwa saat ini fokus utama perusahaan adalah menangani para penumpang yang menjadi korban kecelakaan tersebut.
“Fokus kami saat ini adalah pemantauan dan pengawasan korban, serta memastikan pelayanan rumah sakit dan proses perawatan berjalan dengan baik,” ujar Rizka kepada awak media, Kamis siang (22/1), di ruang kerjanya di Pontianak.
Dalam peristiwa tersebut, sopir truk dilaporkan meninggal dunia di lokasi kejadian. Sementara itu, dari dua bus Damri yang terlibat, total penumpang diperkirakan sekitar 40 orang.
Dari jumlah tersebut, sekitar 25 penumpang mengalami luka-luka dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda, bahkan beberapa di antaranya mengalami patah tulang.
Rizka menjelaskan, korban luka berat berjumlah lima orang, terdiri dari tiga penumpang dan dua orang sopir bus.
“Dua dari tiga penumpang yang sempat dirawat dijadwalkan pulang pada Jumat, sementara satu penumpang lainnya harus menjalani operasi pada Jumat pukul 15.00 WIB akibat patah tulang di bagian dagu sebelah kanan,” jelasnya.
Salah satu sopir bus Damri mengalami retak pada rahang dagu sehingga harus menjalani tindakan operasi.
Selain itu, satu sopir lainnya mengalami luka akibat pecahan kaca di wajah, luka jahitan di jari tangan, serta luka di bagian leher. Kondisinya berangsur membaik dan diperkirakan dapat dipulangkan setelah mendapatkan izin medis dari dokter.
Kronologi kejadian, lanjut Rizka, berdasarkan keterangan sopir bus Damri, truk bermuatan pupuk tersebut mencoba menyalip kendaraan di depannya dengan mengambil jalur berlawanan arah.
Sopir bus Damri sempat memberikan kode lampu dim agar truk menepi dan memberi jalan, namun truk tidak dapat menghindar karena diduga kendaraan di depannya tidak memberikan ruang. Akibatnya, tabrakan adu banteng tidak dapat dihindari.
Benturan keras menyebabkan bagian depan kedua kendaraan mengalami kerusakan parah. Untuk menghindari kemacetan berkepanjangan di lokasi kejadian, dua unit bus Damri telah dievakuasi dan ditarik ke Kantor Damri di Jalan Sultan Hamid II, Tanjung Hilir, Pontianak Timur.
Sejak kejadian tersebut, Damri telah melakukan berbagai langkah penanganan, mulai dari koordinasi dengan pihak kepolisian dan rumah sakit, pendampingan korban di setiap fasilitas kesehatan, pengamanan barang milik penumpang, hingga penanganan dampak kemacetan lalu lintas yang sempat terjadi akibat kondisi jalan dan cuaca hujan.
Terkait operasional armada, bus Damri yang semula dijadwalkan kembali beroperasi pada 2 Februari mendatang ditarik lebih awal pada Jumat untuk keperluan evaluasi dan penanganan lanjutan.
Mengenai nilai kerugian, Rizka menyebutkan hingga saat ini belum dapat dihitung secara pasti karena masih dalam proses pendataan serta penanganan oleh pihak asuransi dan mitra terkait.
Rizka juga menegaskan bahwa seluruh awak bus Damri yang terlibat merupakan pegawai tetap, sehingga tidak akan ada pemutusan hubungan kerja akibat insiden tersebut. Jika ada pegawai yang tidak dapat kembali menjalankan tugas semula karena alasan medis, maka akan dilakukan alih fungsi pekerjaan sesuai kondisi kesehatan.
Dalam kesempatan itu, pihak Damri turut menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya sopir truk yang terlibat dalam kecelakaan tersebut.
“Peristiwa ini merupakan musibah yang tidak kita harapkan, terlebih terjadi menjelang bulan Ramadan. Ke depan, Damri berkomitmen untuk terus memperkuat aspek keselamatan dan kesehatan pengemudi. Fokus kami bukan mencari siapa yang salah, melainkan memastikan seluruh korban tertangani dengan baik dan kejadian serupa tidak terulang,” tutup Rizka.
Terkait asuransi penumpang, Rizka menjelaskan pihak asuransi Jasa Raharja sudah turun langsung memberi bantuan asuransi kecelakaan terhadap korban.(*/zainul irwansyah)














