Pontianak, 11 Juli 2025
Pontianakmetropost.com
Aroma busuk praktik ilegal kembali tercium di jantung Kota Pontianak. Jumat malam, aktivitas mencurigakan berupa bongkar muat bawang ilegal diduga terjadi secara sembunyi-sembunyi di kawasan Jalan Sepakat. Aksi gelap yang dilakukan terang-terangan ini seolah tak tersentuh hukum, memunculkan tanda tanya besar: siapa beking di balik praktik haram ini?.
Ketua Tim Investigasi LIRA Kalbar (Lumbung Informasi Rakyat), Totas, angkat bicara. Ia mengecam keras pembiaran aktivitas ilegal tersebut dan mempertanyakan fungsi serta keberadaan pengawasan aparat di lapangan.
“Ini bukan sekadar bongkar muat biasa. Ini praktik haram yang merugikan negara dan membunuh pelan-pelan petani lokal kita. Kalau terus dibiarkan, publik bisa menilai sendiri: ada apa sebenarnya?” tegas Totas.
Ironisnya, meski berlangsung di ruang terbuka, kegiatan ini seperti luput dari pantauan. Tak ada tindakan. Tak ada suara. Hanya kesunyian yang seolah menjadi isyarat, bahwa praktik semacam ini telah dianggap “biasa”.
Padahal, peredaran komoditas ilegal seperti ini mengancam kestabilan harga pasar, merusak rantai distribusi legal, dan menjadi ancaman nyata bagi petani serta pedagang kecil yang jujur berjualan.
Lebih dari itu, negara dirugikan karena hilangnya potensi pajak dan retribusi yang sah, sementara aktor-aktor gelap menikmati untung besar tanpa risiko.
Pihak berwenang diminta bertindak tegas. Jika benar terjadi pelanggaran hukum, maka semua yang terlibat—baik pelaku lapangan, pemodal, hingga beking di belakang layar—wajib diseret ke hadapan hukum. Jangan sampai masyarakat kembali disuguhi tontonan drama klasik: “kasus hilang ditelan waktu”.
Publik menanti, apakah ini akan jadi cerita lama yang berulang, atau kali ini benar-benar ditindak hingga ke akar-akarnya?
(RN)














Dimohon para aparat main-main ke dusun pareh, kecamatan jagoi babang, kabupaten bengkayang, dipinggir jalan akan menemukan gudang barang-barang ilegal, mulai dari bawang merah/putih/bombai dan bahkan daging sapi dan sosis.