JAKARTA – Wakil Ketua Umum Relawan Gibran Nusantara, Burhanudin Abdullah, menilai anggapan bahwa popularitas Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka, tidak terlepas dari pengaruh Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) merupakan sesuatu yang lumrah dan telah menjadi bagian dari realitas sosial di Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Burhanudin sebagai respons atas pandangan sejumlah pihak yang menyebut tingkat popularitas Gibran lebih banyak dipengaruhi oleh nama besar ayahnya, Jokowi.
“Apa mungkin sekarang bapaknya terkenal, tapi anaknya tidak dikenal orang? Itu adalah budaya dan sudah menjadi hal yang biasa terjadi. Jadi, jangan dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa,” ujar Burhanudin.
Ia menjelaskan, fenomena tersebut tidak hanya terjadi di dunia politik, tetapi juga di berbagai bidang profesi lainnya. Sebagai contoh, anak dari seorang pengusaha besar, tokoh masyarakat, maupun figur publik lainnya secara otomatis akan lebih mudah dikenal oleh masyarakat.

“Misalnya saya dikenal sebagai pengusaha tambang, tentu anak saya juga akan dikenal sebagai anaknya Pak Burhanudin. Itu bukan sesuatu yang luar biasa, melainkan hal yang sangat wajar,” katanya.
Burhanudin menilai tidak tepat apabila popularitas Gibran dipersoalkan hanya karena statusnya sebagai putra Presiden ke-7 RI. Menurutnya, dikenal masyarakat luas sejak awal merupakan konsekuensi logis dari posisi orang tua yang telah menjadi tokoh nasional.
“Kalau Gibran dikenal dan terkenal, itu hal yang wajar. Gibran adalah anak Pak Jokowi yang telah memimpin Indonesia selama dua periode. Tentu masyarakat mengenalnya. Itu adalah sesuatu yang biasa dalam kehidupan sosial,” tegasnya.
Lebih lanjut, Burhanudin mengajak publik untuk menilai Gibran berdasarkan kapasitas, kinerja, dan kontribusinya sebagai Wakil Presiden RI, bukan semata-mata melihat latar belakang keluarganya.
Sebelumnya, pengamat komunikasi politik dari Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, menilai figur Gibran masih bertumpu pada pengaruh Jokowi. Ia membandingkan potensi Gibran dengan Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai dua figur yang dinilai memiliki peluang tampil dalam kontestasi politik menuju Pemilihan Presiden 2029.
Menurut Jamiluddin, Gibran memiliki keunggulan dari sisi dukungan finansial dan efek elektoral yang masih dipengaruhi figur Jokowi. Sementara itu, AHY dinilai memiliki keunggulan dalam aspek pengalaman dan kompetensi, meski tidak memiliki kekuatan finansial sebesar Gibran.
Perdebatan mengenai faktor yang memengaruhi popularitas tokoh politik tersebut dinilai menjadi bagian dari dinamika demokrasi. Namun demikian, Burhanudin menegaskan bahwa keterkenalan seorang anak dari tokoh nasional merupakan fenomena yang lazim terjadi, baik di Indonesia maupun di berbagai negara lain. Source: infolaki.com (Renaldy)













