Sumut-Jumat 28 Nopember 2025-Pontianak Metro Post
Sebuah prestasi membanggakan diukir oleh Muhammad Fahrozi Arif Siagian, pemuda asal Labuhanbatu Utara (Labura), Sumatera Utara, dalam kompetisi nasional yang diselenggarakan oleh Yayasan Partisipasi Muda berkolaborasi dengan Center for Strategic International Student (CSIS) pada 26-29 Oktober 2025 di Jakarta.
Melalui proposal project berjudul “Krisis Ekologis Danau Toba: Respon Kreatif Pemuda Sumut dalam Mitigasi Karhutla”, ia berhasil merebut pendanaan program dalam acara bootcamp dan kompetisi yang berlangsung di Aston Pluit Hotel & Residence, Jakarta.
Ide project yang diusulkan Fahrozi bersama tim tidak sekadar menjadi dokumen akademis, melainkan sebuah respons intelektual sekaligus aksiologis terhadap ancaman degradasi lingkungan di kawasan strategis nasional. Danau Toba, sebagai salah satu destinasi super prioritas, menghadapi paradoks antara tekanan pembangunan dan keberlanjutan ekosistem.
Proposal ini secara cerdas mengidentifikasi kerentanan kawasan tersebut terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), yang dampaknya tidak hanya merusak biodiversitas tetapi juga menggerus fondasi sosio-kultural masyarakat lokal.
Konsep yang ditawarkan Fahrozi merupakan amalgamasi antara pendekatan ilmu lingkungan, pemberdayaan komunitas, dan utilitas teknologi tepat guna. Inti dari gagasan ini adalah membangun sistem peringatan dini karhutla berbasis partisipasi pemuda lokal, dilengkapi dengan pemetaan digital area rawan serta pengembangan mata pencaharian alternatif yang mengurangi ketergantungan pada praktik pembakaran lahan.
Hal ini merepresentasikan sebuah evolusi dalam narasi gerakan pemuda, dari yang sekadar reaktif protes menjadi kontribusi yang solutif.
Kemenangan Fahrozi dalam kompetisi bergengsi ini bukan hanya sekadar pencapaian personal, tetapi merupakan bukti bahwa suara dari daerah mampu bersaing dan memberikan kontribusi pemikiran signifikan dalam diskursus lingkungan nasional.
Bootcamp yang diikutinya merupakan ruang inkubasi yang ketat, di mana peserta tidak hanya dituntut untuk memiliki ide brilian, tetapi juga kemampuan merancang implementasi yang feasible, measurable, dan impactful.
Pendanaan yang diperolehnya akan menjadi katalis untuk merealisasikan gagasan tersebut di lapangan. Keberhasilan putra Labura ini diharapkan dapat menginspirasi generasi muda lainnya di Sumatera Utara, dan Indonesia pada umumnya, untuk tidak hanya menjadi pengamat pasif, tetapi menjadi aktor utama dalam merumuskan solusi atas berbagai persoalan bangsa, khususnya krisis ekologi. Inisiatif seperti ini menegaskan bahwa masa depan lingkungan yang berkelanjutan terletak pada kemampuan kita memberdayakan potensi dan kreativitas anak muda.(*/red)














