Oleh: Prof. Dr. Hendry Jurnawan
Apakah Imlek hanya dirayakan oleh umat Konghucu? Sehingga orang Tionghoa beragama lain tidak boleh merayakan? Kira kira dua dasawarsa yang lalu. Ketua umum Makatin (Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia) pernah keluarkan statement Imlek hanya dirayakan oleh umat Konghucu, bukan untuk agama lain. Apakah itu sudah tepat?
Pernyataan ini langsung mendapat tanggapan sejumlah tokoh masyarakat Tionghoa di Nusantara yang paham dan ahli sejarah Tiongkok. Karena mereka ini mengerti adalah usul dan makna dari Imlek, banyak orang menganggap ketua umum Makatin tidak ngerti sejarah, hanya tahu setengah setengah, sehingga membuat statement keliru.
Waktu itu saya juga tulis di koran daerah, memaparkan Imlek, bukan agama, hanya tanggalan/kalendar orang Tionghoa berdasarkan lunar, yang merupakan siklus perputaran bulan. Singkatnya istilah Imlek adalah Tuhan baru. Dan budaya ini sudah dirayakan 4000 tahun yang lalu. Dulu Imlek juga dirayakan oleh Korea , Vietnam dan Jepang. Yang jelas Jepang tidak rayakan Imlek lagi, sudah ganti merayakan tgl 1 Januari, sebagai tahun baru.
Tanggalan imlek itu bukan ciptaan Konghucu, 4000 tahun yang lalu orang di daratan Tiongkok sudah pakai tanggalan Imlek, hanya sempat berhenti lama. Konghucu bukan nabi tapi ilmuwan berjasa terhadap pemakaian kembali tanggalan Imlek.
Konghuculah menganjurkan kembali pakai tanggalan Imlek, tidak dihiraukan orang. Tapi mendapat tanggapan oleh dinasty berikutnya. Dari dinasty berikutnya ini mulai pakai kembali tanggalan Imlek, Hanya tahun pertama harus dihitung mulai kapan? Akhirnya sepakat untuk menghormati Konghucu, tahun pertama dimulai hitung dari tahun kelahiran konghucu. Sekarang sudah masuk tahun ke 2576. Artinya Konghucu lahir kira kira 500 tahun lebih sebelum kelahiran Yesus.
Imlek adalah istilah untuk merujuk pada Tahun Baru China atau dalam bahasa inggris disebut Chinese New Year. Dalam bahasa Mandarin, perayaan ini disebut Chūn Jié (春节), yang berarti “Festival Musim Semi”. Imlek merupakan perayaan penting bagi masyarakat Tionghoa di seluruh dunia. Semua agama, semua bangsa boleh merayakan Imlek, Di Eropa dan Amerika orang kulit putih main barongsai dan naga pula.
Perayaan Imlek di Indonesia mengalami perubahan besar berkat kebijakan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan dilanjutkan oleh Presiden Megawati Soekarnoputri.
Gus Dur adalah sosok yang menghapuskan larangan terhadap budaya Tionghoa di Indonesia. Sebelumnya, Orde Baru menerapkan Instruksi Presiden No. 14 Tahun 1967 yang membatasi segala bentuk ekspresi budaya Tionghoa di ruang publik, termasuk perayaan Imlek.
Pada tahun 2000, Presiden Gus Dur mencabut Instruksi Presiden no 14 tahun 1967, yang membatasi segala bentuk ekspresi budaya Tionghoa di ruang publik, termasuk perayaan imlek dilarang, Adanya kebijakan Gusdur tersebut melalui Keputusan Presiden No. 6 Tahun 2000, sehingga masyarakat Tionghoa bebas merayakan Imlek dan mengekspresikan budayanya di ruang publik.
Presiden Gus Dur juga dianggap sebagai tokoh pluralisme yang membuka jalan bagi pengakuan terhadap keberagaman budaya di Indonesia. Maka Imlek dijadikan hari libur fakultatip atau optional
Dilanjutkan presiden ke 5 Megawati, melalui Keputusan Presiden no 19 tahun 2002, perayaan Imlek ditetapkan sebagai hari libur nasional. Dan sampai hati ini bangsa Indonesia Imlek masih sebagai hari libur nasional, melalui Keputusan Presiden No. 19 Tahun 2002, itulah hari raya Imlek pertama kali dirayakan sebagai hari libur nasional pada tanggal 1 Februari 2003.
Kebijakan kedua presiden Republik Indonesia merupakan tokoh sangat berperan dalam menghapus diskriminasi terhadap budaya Tionghoa dan memperkuat nilai keberagaman di Indonesia.
Kini, Imlek dirayakan secara terbuka oleh masyarakat Tionghoa dan menjadi bagian dari kekayaan budaya bangsa. Tidak sedikit suku non Tionghoa menyambut Imlek sebagai hari besar
Setiap Imlek terdapat berbagai tradisi, seperti Membersihkan rumah untuk mengusir nasib buruk. Makan bersama keluarga untuk mempererat hubungan kekeluargaan. Menyediakan angpao (amplop merah) berisi uang sebagai simbol keberuntungan dan rezeki.
Menghias rumah dengan warna merah yang melambangkan keberuntungan dan kebahagiaan.
Imlek juga sering disemarakan dengan tarian barongsai, tarian naga, serta makanan khas seperti kue keranjang. Hari itu menjadi momentum untuk memulai tahun dengan semangat baru dan harapan akan keberuntungan.
Saya pernah merayakan Imlek di pulau seram, Ambon pada tahun 2015. Sepuluh tahun sudah lewat, tapi masih berkesan, kami bersama Gubernur Maluku, Pangdam, Kapolda, Kajati, Danlanal serta Rektor Pattimura naik kapal cepat, Ke pulau kecil seram itu merayakan Imlek bersama dengan para nelayan, tambak udang, sebanyak kurang lebih 600 hadirin, sukacita menyambut Imlek, tanpa ritual agama, hanya pertunjukan tarian budaya Tionghoa dan daerah setempat.
Hanya pesta makan bersama, selama setengah hari di lapangan terbuka, dalam kawasan tambak udang, semua berbaur dengan penduduk setempat bersuka ria, yang diadakan oleh Bapak Datuk Burhan Uray. Inilah bukti toleransi dalam budaya, maka kita bersyukur, negara kita selalu junjung tinggi kehidupan beragam brdasarkan prinsip “Bhineka Tunggal Ika” Tahun 2025, Imlek jatuh pada hari Rabu, tanggal 29 Januari 2025, tahun Imlek ke 2576. Selamat Hari Raya Imlek, Kung Xi FA CAI, Tuhan memberkati kita semua,amin. ( Ditulis pada tgl 24/1/2025,)














