Medan, 29 Mei 2025 -Pontianak Metro Post
Seorang pejuang hidup tengah mencari rezekinya, bapak dengan baju berwarna biru dengan celana trening panjang. Dia bernama bapak Joni Rafiandi yang usianya tidak muda lagi dengan umur (48) tahun yang tengah menjual mantel hujan di sekitar jalan masjid Al Jihad, Babura, Medan Baru.
Dengan membawa beberapa tas yang berisikan mantel hujan dengan berbagai warna dan jenis beliau menawarkan kepada para orang saat berlalu lalang dengan harga Rp. 10.000, Rp. 13.000 untuk jenis mantel biasa dan Rp. 18.000Â untuk mantel celana dengan warna yang cukup lengkap yaitu merah, ungu, hijau, biru, dan beberapa memiliki motif polkadot.
Pak Joni berjualan setiap hari, tak peduli hujan atau panas karena rezeki tidak ada yang tahu.
“Dulu saya kerja di agen pelayaran di tanjung balai karimun, jadi sifat saya gini klo ga cocok cabut” ujar tegas pak Joni.
Beliau hidup bagai penjelajah dan pergi diberbagai tempat yang ia inginkan.
Pak Joni hidup sebatang kara istrinya sudah meninggal pada tahun 2007an dan tidak memiliki anak. Dan pak Joni ngekos di sekitar daerah Juanda.
Dengan penghasilan yang tidak menentu kadang hujan kadang panas pak Joni hanya berserah kepada pemilik rezeki, ” kadang ada kadang tidak wa Allahu A’lam yang penting bisa makan” ujar pak Joni sambil melihat mantel yang dijualnya.
” Yang penting bisa makan, dan bersyukur atas rezeki yang diberi Tuhan karena banyak yang pekerjaan diatas tapi tetap korupsi karena tidak bersyukur atas yang sudah dimiliki”, ujar pak Joni.
Pak Joni telah menjual mantel hujan sudah hampir 3 tahun. Pendapatan tidak menentu kadang jika habis dan misal mendapatkan 100 ribu, dan uang makan tidak ada karena uang itu harus tetap dimodalkan agar tidak habis modal.
” Saya belanja jika sudah hampir habis saja bukan setiap hari karena penjualan yang tidak menentu” ujar pak Joni.
Beliau selalu menekankan untuk memilih tidak makan daripada tidak memiliki modal lagi.
” Rezeki sudah ada yang atur. Yang penting saya kerja InsyaAllah cukup” ujar pak Joni penuh keyakinan.
Langit mungkin terus berubah, tapi semangat tak pernah luntur meski diguyur hujan kehidupan. Tidak hanya menjual mantel, tapi juga menjual harapan bahwa dalam hidup yang sering tak pasti, ada rezeki yang datang bagi mereka yang sabar menanti.(*/ridho/tim)













