Pontianak Metro Post
  • Terbaru
  • Katagori
    • Daerah
      • Polda Kalbar
    • Nasional
    • Lifestyle
      • Berita Sosial
      • Tips & Hobi
      • Toleransi Agama
  • Tentang
  • Regulasi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Register
  • Log In
  • Otomotif
  • Terbaru
  • Katagori
    • Daerah
      • Polda Kalbar
    • Nasional
    • Lifestyle
      • Berita Sosial
      • Tips & Hobi
      • Toleransi Agama
  • Tentang
  • Regulasi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Register
  • Log In
  • Otomotif
No Result
View All Result
Pontianak Metro Post
No Result
View All Result
Home Berita Utama

*Perjalanan Iman Nabi Ibrahim dan Kegagalan Kita “Membaca” Langit*

Redaksi Minggu 10 Mei 2026

Redaksi by Redaksi
10 Mei 2026
in Berita Utama, Berita Viral Hari Ini, Breaking News
0
3
VIEWS
ADVERTISEMENT

Oleh: Zaenal Abidin Syuja’i

Di suatu malam yang sunyi Nabi Ibrahim menatap langit. Ia tidak sekadar melihat bintang. Ia menguji makna di baliknya. Apa yang tampak bercahaya belum tentu layak disembah.

ADVERTISEMENT

Lebih dari itu, apa yang memukau belum tentu pantas menjadi pusat pengabdian. Dari situlah iman lahir. Bukan dari warisan, tetapi dari keberanian mempertanyakan.

Surah Al-An’am ayat 75-80 merekam momen langka dalam sejarah spiritual manusia, ketika iman dibangun melalui proses intelektual yang jujur. Ibrahim “mencoba” bintang, bulan, dan matahari sebagai kandidat Tuhan, lalu menolaknya satu per satu ketika semuanya tenggelam.

Sebuah metode berpikir yang sederhana, tetapi menghancurkan fondasi kesyirikan, yakni bahwa Tuhan tidak mungkin tunduk pada hukum terbit dan tenggelam.

Namun di sinilah ironi kita hari ini. Kita hidup di zaman yang justru memproduksi “tuhan-tuhan baru” dalam jumlah tak terbatas, dan anehnya kita menyembahnya tanpa proses sebagaimana yang dilakukan Nabi Ibrahim.

Kekuasaan, jabatan, popularitas, bahkan simbol-simbol keagamaan itu sendiri seringkali kita angkat ke derajat yang nyaris sakral.

Kita tahu semuanya “terbit dan tenggelam”, tetapi tetap saja menggantungkan makna hidup padanya.

Politik, misalnya, telah menjadi salah satu matahari yang paling menyilaukan. Ia menjanjikan terang, tetapi sering meninggalkan gelap.

Para elite datang dengan cahaya retorika, dielu-elukan seperti penyelamat, lalu tenggelam dalam skandal atau kompromi.

Namun masyarakat tidak belajar. Setiap kali “matahari” baru muncul, kita kembali silau, seolah lupa bahwa yang sebelumnya juga pernah bersinar dengan cara yang sama.

Di ruang sosial, kita menyaksikan hal serupa. Popularitas di media sosial menjelma menjadi “bintang-bintang kecil” yang dipuja tanpa kritik. Ukuran kebenaran bergeser. Bukan lagi pada substansi, tetapi pada seberapa terang sorotan publik.

Orang yang viral dianggap benar dan yang sunyi dianggap tidak relevan. Padahal Ibrahim sudah memberi pelajaran sederhana, yaitu bahwa cahaya bukan jaminan kebenaran.

Lebih tragis lagi, bahkan agama pun tidak luput dari proses “objektifikasi”. Simbol-simbol keagamaan dijadikan alat legitimasi, bukan jalan pencarian. Kita lebih sibuk mempertahankan identitas daripada menguji kedalaman iman.

Seolah-olah iman cukup diwarisi, bukan diusahakan. Seolah-olah keyakinan tidak perlu diuji, padahal justru di situlah letak kekuatannya.

Apa yang hilang dari kita adalah keberanian Ibrahim untuk berkata, “Aku tidak menyukai yang tenggelam.” Sebuah kalimat sederhana, tetapi radikal. Ia bukan hanya menolak benda langit, tetapi juga menolak segala bentuk ketergantungan pada yang fana.

Hari-hari ini, kita justru melakukan sebaliknya. Kita sadar bahwa kekuasaan itu sementara, tetapi tetap mengkultuskannya. Kita tahu materi tidak abadi, tetapi menjadikannya ukuran keberhasilan.

Kita paham manusia bisa salah, tetapi memperlakukannya seperti tak tersentuh kritik. Kita hidup dalam kesadaran yang setengah matang: tahu, tetapi tidak berani menarik kesimpulan.

Di titik ini, kisah Ibrahim bukan sekadar cerita teologis. Ia adalah kritik sosial yang telanjang. Ia mempertanyakan cara kita beriman, cara kita berpikir, dan cara kita memaknai dunia. Ia mengingatkan bahwa tauhid bukan sekadar pengakuan verbal, tetapi hasil dari pembebasan diri dari segala bentuk “tuhan palsu”.

Dan mungkin, masalah terbesar kita bukan karena tidak melihat tanda-tanda Tuhan di alam, tetapi karena kita berhenti membaca. Langit masih sama seperti yang dilihat Ibrahim.

Bintang pun masih bersinar, bulan masih berpendar, dan matahari masih terbit dan tenggelam.
Tetapi kita tidak lagi menjadikannya pelajaran dan hanya latar belakang bagi rutinitas yang kosong makna.

Ibrahim menemukan Tuhan justru dengan menolak apa yang tampak paling terang. Kita, sebaliknya, kehilangan arah karena terlalu mudah terpikat oleh cahaya.

Maka pertanyaannya sederhana, sekaligus mengganggu: Di antara sekian banyak “cahaya” yang kita kejar hari ini, berapa yang sebenarnya hanya sedang menunggu waktu untuk tenggelam?

Zaenal Abidin Syuja’i adalah Pengasuh Pondok Pesantren Mathla’ul Anwar Kota Serang, Banten(r/aat/zir)

Views: 32

Bagikan ini:

  • Bagikan ke Linkedln(Membuka di jendela yang baru) LinkedIn
  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
  • Bagikan ke WhatsApp(Membuka di jendela yang baru) WhatsApp

Menyukai ini:

Suka Memuat...

Terkait

Tags: Iman Nabi IbrahimPerjalanan
Mau Pasang Iklan? Klik disini.
Previous Post

Imigrasi Pontianak Bertindak Tegas! WNA Overstay Diamankan dan Dideportasi

Next Post

*Pemekaran Desa Punggur Raya Disosialisasikan Lewat Turnamen Mancing Massal*

Redaksi

Redaksi

Next Post

*Pemekaran Desa Punggur Raya Disosialisasikan Lewat Turnamen Mancing Massal*

Tinggalkan KomentarBatalkan balasan

Recommended

*INKAI Kubu Raya Buka Seleksi Atlet untuk Persiapan Kejuaraan Forki dan Kemenpora 2026, Said: Kami Akan Tampil Maksimal*

11 Mei 2026

Audiensi Dengan Kapolresta Pontianak: Perbakin Kota Pontianak Optimistis Lahirkan Juara Menembak Tingkat Nasional

11 Mei 2026

*Dies Natalis Berlangsung Meriah: Barkah Sebut FEB Untan Targetkan Jadi Fakultas Terbaik di Lingkungan Untan*

11 Mei 2026

Audiensi Dengan Kapolresta Pontianak: Perbakin Kota Pontianak Optimistis Lahirkan Juara Menembak Tingkat Nasional

11 Mei 2026
  • Trending
  • Comments
  • Latest

Selamatkan Jiwa Masyarakat, Polisi Lalu Lintas Rela Ganjal Bus Mogok Dengan Kendaraan Pribadinya di Jembatan Kapuas 2

1 Januari 2024

KOPDAR Akbar SGB 2 ,Serta ULTAH SGB 2

12 Mei 2023
Pertemuan Kapolres dan AMP

Sebagian AMP Bali Mengutarakan Keluh kesah atas Demo AMP Yg selama ini terjadi

9 Mei 2023

Peresmian BBH Pontianak Buka Era Baru di Kubu Raya: Heboh Berkah, Peluang Income Meroket!🚀”

19 Desember 2023

Selamatkan Jiwa Masyarakat, Polisi Lalu Lintas Rela Ganjal Bus Mogok Dengan Kendaraan Pribadinya di Jembatan Kapuas 2

2

Ahli Waris Gugat Ke PTUN Minta Sertifikat yang Dikeluarkan BPN Landak Dibatalkan, Sidang Lapangan Berlangsung Lancar

1

Rendy Lesmana, SH Siap Maju Caleg DPRD Kalbar untuk Masyarakat Pontianak

1
Img 20240331 164004 6933625441909282089039.jpg

DPW BAIN HAM-RI dan HAMAS Kalbar Berkolaborasi Membagikan Takjil Berbuka Puasa Kepada Masyarakat Pengendara Motor

1

*INKAI Kubu Raya Buka Seleksi Atlet untuk Persiapan Kejuaraan Forki dan Kemenpora 2026, Said: Kami Akan Tampil Maksimal*

11 Mei 2026

Audiensi Dengan Kapolresta Pontianak: Perbakin Kota Pontianak Optimistis Lahirkan Juara Menembak Tingkat Nasional

11 Mei 2026

*Dies Natalis Berlangsung Meriah: Barkah Sebut FEB Untan Targetkan Jadi Fakultas Terbaik di Lingkungan Untan*

11 Mei 2026

Audiensi Dengan Kapolresta Pontianak: Perbakin Kota Pontianak Optimistis Lahirkan Juara Menembak Tingkat Nasional

11 Mei 2026
Currently Playing

About Us

Pontianak Metro Post

Pontianak Metro Post

Media Digital Online

Developer by.
WBDC - West Borneo Digital Creative

Company by.
PT. Pontianak Metro Post

Pontianak Metro Post

Categories

Tags

Action Adventure bank kalbar bengkayang bidhumaspoldakalbar caleg Console divhumaspolri DPRD edi kamtono eSport imigrasi pontianak Indonesia jasa raharja kalbar Kalimantan Barat kapolres Kapolresta Pontianak klarifikasi Kodaeral XII Kubu raya Laki lsm maung masyarakat mempawah Open World Pemilu polda Polda Kalbar PoldaKalbar Polisi Politik Polresta Pontianak polripresisi Pontianak Pontianak Metro Post Pontianakmetropost.online ptpn ptpn I ptpn IV Pwi Racing SINGKAWANG Sport Strategy
  • Log In
  • About
  • Contact
  • Advertise
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy & Policy
  • Kode Etik Jurnalistik

© 2023 West Borneo Digital Creative | WBDCBuy Instagram VerificationSMM Panel

No Result
View All Result
  • Terbaru
  • Katagori
    • Daerah
      • Polda Kalbar
    • Nasional
    • Lifestyle
      • Berita Sosial
      • Tips & Hobi
      • Toleransi Agama
  • Tentang
  • Regulasi
  • Kode Etik Jurnalistik
  • Pedoman Media Siber
  • Register
  • Log In

© 2023 West Borneo Digital Creative | WBDC

Follow Medsos: Pontianak Metro Post

%d
    Lewat ke baris perkakas
    • Tentang WordPress
      • WordPress.org
      • Dokumentasi
      • Belajar WordPress
      • Bantuan
      • Umpan balik
    • Masuk Log
    • Daftar